Lulusan S1 Ilmu Komputer kalah sama D3?

Teman-teman.. sebagai salah satu calon alumni dan sarjana ilkom yang terlambat lulus.. (2007-2013) izinkan saya mengungkapkan pendapat saya..
inti dari tulisan OP itu sebenernya cuma ini:

Sarjana Komputer : PRAKTEK NOL BESAR.

Dan semua argumen dan nyinyiran seperti:

“Bukan rahasia lagi bahwa banyak sarjana komputer hanya tau teori. Bikin program aplikasi nol besar. Walaupun bisa bikin hanya mampu dioperasikan oleh diri sendiri, sering error, sulit dikembangkan.”

Itu sebenernya ga cuma buat sarjana komputer, tapi berlaku untuk seluruh manusia yang bermata pencaharian dengan mengetik di depan komputer untuk membangun barang yang harganya bisa miliaran rupiah tapi tidak bisa dipegang (Kecuali kalau setelah softwarenya ditaro di CD/USB FD keitung bisa dipegang ya).

Bikin program aplikasi nol besar dan hanya mampu dioperasikan oleh diri sendiri, sering error, sulit dikembangkan? Memang ada waktunya untuk itu, kawan. Kita ga dilahirkan bisa ngetik sepuluh jari semenjak ari-ari kita diputus sama dokter kandungan..

Lalu kapan waktunya? Cukup panjang, 4 tahun selama kita kuliah..(Atau dalam kasus saya, 6 tahun). Semua tugas besar kita, tugas kecil, semua eksperimen belajar programming atau framework.. disitulah waktu idealnya untuk semua kesalahan dan pelajaran yang bakal jadi bekal cari duit nanti.

Kalau boleh saran, jangan liat dari “Tong eleh ku OB atuh” atau “Masa kalah sama D3?” lebih2 lagi “Bisa2nya kalah sama yang otodidak”, kurang tepat bro..

Motivasimu lebih enak didenger kalo gini, dari yang idealis “Aing ingin bikin software yang bisa dipake buat cari duit sama jutaan orang!” sampe yang paling klise: “Indonesia perlu solusi TI yang tepat buat meningkatkan kesejahteraan dan kedaulatan rakyat” atau mungkin simply “I just love to code, might as well earn a lot of money from doing it!”

Nah, menurut saya, hampir 90% tulisan OP itu bener. Dunia kerja butuh ijazah buat syarat lamaran kerja. Tapi yang paling penting itu portofolio (dan salary expectation). *Ini cerita nyata dari temenku yang pernah liat langsung proses sorting CV setelah acara jobfair beres*

Sekarang begini, di angkatan saya banyak banget yang akhirnya ‘salah jurusan’ tapi tetep lulus dan menyandang gelar S.Kom. Salah?
Nope, I don’t think so. Kalau saya denger cerita ada mahasiswa jurusan akuntansi jadi web programmer handal dan berprestasi, saya pasti berdecak kagum. Terus kalau ada sarjana ilmu komputer jadi penyanyi terkenal atau penulis buku best seller, atau mungkin pegawai kantoran dengan gaji di atas 7jt? Kalau twist-nya sukses, kemungkinan gede orang2 ga akan ada yang protes. Lagipula sumber rezeki bukan cuma coding, warteg juga sumber rezeki, bahkan truk atau angkot juga ada yang sumber rezeki.

Jadi menurutku tulisan OP itu 90% ada benernya, tapi bukan berarti 90% harus didengerin..πŸ™‚

Saat ini, saingan kita bukan lulusan D3-D4 atau bahkan S1 apalagi yang otodidak. Tak ada guna merendahkan orang lain hanya karena strata pendidikan. Pernyataan “Masa kalah sama lulusan D3” itu bagi saya memberi kesan kalau lulusan setara D3 itu tidak layak untuk lebih capable dari lulusan S1. Sekarang hilangkanlah pikiran-pikiran seperti itu.

YANG PENTING SEKARANG..

Kalian yang masih punya banyak waktu, jangan takut salah, jangan takut memulai. Kalau bisa, janganlah nanti dipenghujung semester 6 atau 7 kalian baru mulai berpikir ‘saya gak bisa coding’, lalu mulai membangun mindset ‘saya gak cocok di bidang komputer’.

Dari sekarang juga, praktek..praktek..praktek. Kalau setelah 1-5 praktek (coding, kerjain tugas besar) kalian bener-bener yakin kalian gak cocok di bidang komputer, seenggaknya kalian udah bisa ancang-ancang dari jauh hari sebelum skripsi. Kalian bakal punya waktu lebih buat cari passion sejati kalian. Mungkin langsung pindah jurusan, atau mungkin lanjut tapi ya harus paksain enjoy kuliah sampe beres dengan skripsi selulus-lulusnya. Ingat, sumber rezeki bukan cuma coding!
Now a bit about my self:

  • Tahun pertama perkuliahan saya langsung deklarasi kalau saya bakal ambil bidang networking, karena gak akan coding! Dan jauh dari matematika.
  • Tahun kedua saya mulai nyadar kalau saya salah, networking butuh coding, butuh matematika (logic mostly).
  • Akhir tahun kedua saya mulai bikin mindset kalau saya bukan orang komputer, tugas asal-asalan, kuliah sedatangnya(sebangunnya?), galau sibuk bermain dengan dalih mencari passion sejati.
  • Tahun ketiga saya dapet semacam pencerahan, saya sadar saya udah ga punya waktu buat pindah jalur, saya harus paksain diri saya buat cinta coding, memaksakan diri supaya tidak mudah terintimidasi dengan rumus-rumus dan algoritma.
  • Tapi di tahun ketiga juga saya sadar kalau saya terlambat 1-2 tahun. Tapi disini saya mulai cari bidang yang sreg sama saya. Beberapa diantaranya: desain web, data mining, sistem informasi.
  • Tahun keempat saya mulai skripsi saya, merangkak. Belajar coding dari awal (mungkin bisa disebut otodidak).
  • Akhir tahun keempat saya mulai melihat programming dan menghubung-hubungkannya dengan perkuliahan yang sudah lewat.
  • Tahun kelima saya sudah mulai enjoy coding, saya enggan berkutat dengan dokumen skripsi karena menurut saya program lebih penting!
  • Tahun keenam saya akhirnya sidang. Dan dokumen(skripsi) ternyata lebih penting. Program juga penting, sangat penting, tapi dengan dokumen yang buruk, program jadi tidak penting.

Skill nulis dokumen skripsi itu didapet dari perkuliahan, tugas-tugas makalah atau resume, baca paper-paper atau jurnal bahasa inggris.
Skill coding itu didapet dari praktikum, tugas besar, dan mostly otodidak. Betul, my friend, otodidak.

Izinkan saya menyematkan kata-kata bijak walau sedikit:

“Mulai sekarang, Google dan Stackoverflow adalah sahabatmu”

Disclaimer: Skripsi abi mah tergolong so-so, da abi mah contoh nu teu patut ditauladani. 
Translate: Belajarlah dari kesalahan-kesalahan, nah saya nih salah satu contoh kesalahan-kesalahan itu. Tolong jangan ulangi kesalahan saya.

UPDATE: I found this on the internet. Here's to whoever you are trying to learn Programming and taking it easy.
BAM!!
Β 

13 thoughts on “Lulusan S1 Ilmu Komputer kalah sama D3?

  1. I’m one of those who was think that code is a mistake. But when I lost into the real world. Here’s what I think most:

    “Working as IT is hella more fun than most of general job in this world”.

    I’m that one who is currently working with general job.

    1. And when we are lost into the real world, we all start from zero. (Generally speaking of course, except anak mentri dan sebangsanya..πŸ™‚ )

    1. Saya kenal orang lulusan ITB Teknik Informatika, jago coding. Dia mencap dirinya tidak suka coding. Tapi dia (sekarang mungkin masih) jadi CTO di sebuah startup, dan memang jago codingnya. Passion bisa berubah karena seiring waktu, banyak hal baru yang kita temuin. Bisa aja begitu kita kenal programming lalu jatuh cinta, atau kenal programming dan cocok, tapi passion-nya ternyata di fashion. Kesimpulannya, menurut saya, suka coding tidak menentukan passion seseorang cocoknya di jurusan ilmu komputer.πŸ™‚

  2. Ga cm ente gan…bahkan klo ane liat ente lebih beruntung dr ane…ane lukusan IT 4 tahun tp apa yg ane lakukan skr sangat jauh jauh sekalindr bidang IT…ane cm tau coding2 org awam…tp ketika tes di kerjaan pertama kali ane kerja…ane lgsg blank…lgsg berfikir…gila penguasaan ane masih bnr2 nol…ane lgsg putus asa di coding…ane cb nglamar selanjutnya di networking…ane ngerti konsep…tp pas praktek kelapangan ane sering salah…alhasil lamar lagi tmpt lain dgn design graphics. ..awal2 enjoy..tp ko lama2 ane merasa kurang kreatip…dan pas masuk junior ane…ane malah dikalahin dan terdepak…dan terakhir ane nglamar sbg web programing…ane pake PHP…awal masuk ane ud buat website kantor ane…trs ane suruh kembangin…tp kesini-sini ane lama2 malah disuruh maintain server n networking…lalu ga lama ane malah disuruh belajar keuangan…

    kesimpulan ane…fokuslah sm bidang IT yg ente2 jalanin…klo suka coding lanjut coding jgn jd kutu loncat kek ane yg akhirnya malah jd gatau arah…skr ane tersesat di ruang lingkup ane sendiri…krn mau pindah job jg…id kepentok sm udah berkeluarga dan ud nyicil rumah…sedangkan klo mau ambil jalur…merek2 para tester wawancara blg ane hrs mulai dr nol…

    sekian keluh kesah ane sbg IT serba serbi
    wassalam

    1. Elnico, ini mah menurut saya ya, kalau konteksnya belajar Ilmu Komputer (Computer Science) maka, iya harus bisa matematika. Tapi ga harus jago matematika supaya bisa belajar Ilmu Komputer.
      Cuma memang, kalau jago matematika, pasti ngaruh ke skill analisis dan programming nya.

      Pokoknya setauku, Matematika gak bisa dipisahin dari Ilmu Komputer.πŸ™‚

  3. Saya pribadi lebih suka menghire coder yang memang passion-nya di programming, tidak peduli dia punya gelar komputer atau tidak. Coding itu seperti bisnis, lebih ke art, beda dengan engineering dan kedokteran yang memang harus melalui proses pembelajaran dan legitimasi formal.

    Saya adalah lulusan S1 Ilmu Komputer , saya juga merasa, sebagai mahasiswa Ilmu Komputer, yang dibentuk bukan coding capability tapi thinking capability. Waktu kita lebih banyak habis untuk mempelajari matematika, pemodelan masalah, rekayasa software dan algoritma daripada coding. Karena itu dalam membuat program, lulusan S1 Ilmu Komputer lebih berhati-hati, teoretis dan textbook thinking, seperti halnya cara pemegang gelar MBA dalam berbisnis dibanding para Bondo Nekad di bidang bisnis yang otodidak dan lebih berani ambil resiko untuk berbisnis!

    Itulah kenapa banyak anak D3/otodidak yang lebih mumpuni dalam pemrograman dibanding S1. Mereka langsung belajar pemrograman untuk produksi, terkadang nerima project dulu, belajar Frameworknya belakangan! dan saya salut sekali sama model orang yg seperti ini…

    Meskipun hanya 10% dari ilmu kuliah yang terpakai, passion saya di coding besar sekali. Saya suka ngutak-atik Framework baru, bahasa baru, membuat program-program yang unik , tapi saya hanya sebentar menjadi Developer, saya malah memilih karir di dunia IT Sales dan Marketing. Saya merasa justru berkarir di dunia IT Sales, membuat saya terpacu untuk mengetahui teknologi terbaru di dunia IT.

    Dari Sales dan Management ini ditambah dengan pengetahuan teknis, saya malah bisa dapat posisi sebagai CTO di sebuah startup, nah sebagai CTO ini justru saya lebih leluasa lagi untuk ngutak-atik berbagai teknologi untuk Web dan Mobile application sambil membangun pasar. Saya lebih senang dibilang otodidak karena memang kenyataannya 90% ilmu coding saya hasil belajar sendiri.

    Intinya gelar Computer Science itu hanya bekal awal untuk punya mindset seorang computer scientist, tapi untuk teknologi terbaru, musti otodidakπŸ™‚

    1. Setuju, mas. Gelar Computer Science itu bekal awalnya seorang Computer Scientist.

      Btw, keren mas pengalamannya.πŸ™‚ Jadi CTO di startup trus bisa ngulik yang baru2.

      Saya suka excited tiap liat ada teknologi baru yang muncul, khususnya yang berhubungan sama kerjaan saya.
      Dulu pas pertama2 cari duit, pake PHP+CodeIgniter. Trus muncul Laravel, langsung dicoba, dan amazed. Langsung kebayang ngerjain proyek selanjutnya bakal lebih gampang dan rapih kalau pake Laravel.

      Bolehlah saya bilang otodidak itu seneng ngulik. Mungki saya bisa narik kesimpulan juga, belajar programming ya enaknya kalau kita seneng ngulik.. πŸ™‚

  4. Ya tuhan kalian kayanya lebih beruntung..aku anak TI smt 5 (angkatan 2012) tp smpe skrg aku sama sekali ga ngrerti informatika sempet belajar php tp bru baca2 html aja udah pusing skrg malah jarang kuliah ada yg mau bantuin tp ngasih ebook aja ..parahnya akubga pinter b.inggris jd percuma d ksih ebook..aku takut lulus nanti ga dapet kerja lgsg masalahnya mau ngelamar d perusahan TI basicnya aja kayanya aku ga ngerti.. Rencananya lulus nanti mau lamar d bank aja ato usaha..tp aku gak mau kuliahku sia2 aku mau ngerti TI tp susah bgt belajarnya..sarannya donk gan

    1. Mutyaraz, semangat!!
      Dunia IT ga hanya ngoding kok.. Ada lagi kerjaan di TI yang sengetop developer dan keren.. Ada network administrator, system administrator dua macem ini aja jarang diambil sama cewe2. Walaupun ga sepenuhnya lepas dari codingan, tapi keren beud kan kalo ada cewek jago networking.. :))

      Ada lagi UX(user experience) developer, jadi kerjanya seputar interaksi manusia dan komputer, belajar gimana caranya bikin tampilan aplikasi yang gampang dipake sama pengguna. Coba deh liat aplikasi facebook. Perhatiin, kenapa timeline ada di tengah? Kamu mau cek notif gampang atau susah nyarinya? Semua hal detil itu hasil rancangan orang UX.
      Trus ada technical writer, ini keren ini..kalau ga ada technical writer, cilaka 12 itu proyek2 sistem informasi.. Ga akan ada buku manualnya, dokumen teknisnya..ancur berantakan. Walaupun terkesan kerja di belakang layar..technical writer yang udah pro bakal dibayar mahal. Malah bisa jadi sistem analis.. Udah ge perlu ngoding lagi kalau udah tahap itu mah..

      Dan blogger..kita ini para kaum lelaki (geek) tiap liat cewek yang wawasannya luas pasti bawaannya gemes. Apalagi kalau ada cewek yg geek komputer juga, rajin ngeblog misal tentang aplikasi2 open source..ngebahas aplikasi2 startup di indonesia, event2 TI di indo.. Perasaanku sih cewe masih jarang yang interest soal ini..

      Masih banyak kerjaan di dunia IT yang ga perlu ngoding,mut.

      Tapiii….

      …masih lebih banyak juga kerjaan lain yang bukan di IT yang mungkin lebih banyak bawa rezekinya..apalagi dagang/usaha..inshallah lebih banyak rezekinya..πŸ˜‰

  5. Wah makasih banget mas infonya. Jujur saya masih belum tau apa-apa soal Ilmu Komputer dan sekarang ini saya masih cari kuliah (biasa… ujian sbmptn) ditambah lagi saya masih bingung antara Teknik Informatika dengan Ilmu Komputer haha untungnya disini banyak yang jauh lebih berpengalaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s